Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Menghitung Koefisien Korelasi Spearman, Interpretasi, dan Contoh Kasus

Korelasi adalah salah satu teknik statistik yang digunakan untuk mengukur hubungan antara dua variabel. Salah satu metode korelasi yang sering digunakan adalah korelasi Pearson. Namun, korelasi Pearson memiliki asumsi yang harus dipenuhi, yaitu data harus terdistribusi secara normal dan memiliki hubungan linier. Apabila data Anda tidak memenuhi asumsi tersebut, maka metode korelasi non-parametrik seperti korelasi Spearman dapat digunakan.

Outline Artikel

Korelasi Spearman adalah salah satu metode korelasi non-parametrik yang digunakan untuk mengukur hubungan antara dua variabel ordinal atau interval yang tidak memenuhi syarat normalitas. Metode ini bekerja dengan menghitung koefisien korelasi antara peringkat dari setiap data, bukan nilai asli datanya. Oleh karena itu, korelasi Spearman dapat digunakan untuk mengukur hubungan monotonic antara kedua variabel, yaitu apabila kenaikan (penurunan) pada salah satu variabel selalu dikaitkan dengan kenaikan (penurunan) pada variabel lainnya.

Koefisien korelasi Spearman memiliki rentang nilai antara -1 dan +1. Nilai -1 menunjukkan hubungan negatif sempurna, nilai 0 menunjukkan tidak adanya hubungan, dan nilai +1 menunjukkan hubungan positif sempurna antara kedua variabel. Semakin dekat koefisien korelasi Spearman dengan nilai -1 atau +1, semakin kuat hubungan antara kedua variabel.

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara detail bagaimana korelasi Spearman bekerja, cara menghitung koefisien korelasi Spearman, interpretasi hasil korelasi Spearman, serta contoh penggunaan korelasi Spearman dalam analisis data.

Bagaimana korelasi Spearman bekerja?

Korelasi Spearman digunakan untuk mengukur hubungan antara dua variabel ordinal atau interval yang tidak memenuhi asumsi normalitas dan linieritas seperti yang diperlukan dalam korelasi Pearson. Metode ini bekerja dengan mengubah nilai-nilai asli dari kedua variabel menjadi peringkat, yaitu peringkat pertama diberikan pada nilai terkecil, peringkat kedua diberikan pada nilai kedua terkecil, dan seterusnya. Setelah nilai-nilai asli diubah menjadi peringkat, koefisien korelasi Spearman

Cara menghitung koefisien korelasi Spearman

Koefisien korelasi Spearman dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

dimana:

r_s = koefisien korelasi Spearman

∑d^2 = jumlah dari selisih peringkat kuadrat antara kedua variabel

n = jumlah data

Untuk menghitung koefisien korelasi Spearman, langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Rangking kedua variabel

Ubah nilai-nilai asli dari kedua variabel menjadi peringkat, yaitu peringkat pertama diberikan pada nilai terkecil, peringkat kedua diberikan pada nilai kedua terkecil, dan seterusnya.

2. Hitung selisih peringkat

Selanjutnya, hitung selisih peringkat antara kedua variabel. Misalnya, jika variabel pertama memiliki peringkat 1, 2, 3, 4, 5, sedangkan variabel kedua memiliki peringkat 2, 1, 4, 3, 5, maka selisih peringkat untuk setiap data adalah sebagai berikut: -1, 1, -1, 1, 0.

3. Kuadratkan selisih peringkat

Setelah selisih peringkat dihitung, kuadratkan nilai-nilai tersebut.

4. Jumlahkan selisih peringkat yang sudah dikutadratkan

Jumlahkan nilai-nilai selisih peringkat yang sudah dikutadratkan.

5. Hitung koefisien korelasi Spearman

Terakhir, hitung koefisien korelasi Spearman menggunakan rumus yang sudah dijelaskan di atas.

Koefisien korelasi Spearman yang diperoleh dapat digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara kedua variabel. Semakin dekat nilai koefisien korelasi Spearman dengan -1 atau +1, semakin kuat hubungan antara kedua variabel. Sedangkan jika koefisien korelasi Spearman mendekati 0, artinya tidak ada hubungan antara kedua variabel.

Interpretasi hasil korelasi Spearman

Koefisien korelasi Spearman dapat digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara dua variabel ordinal. Korelasi Spearman juga dapat digunakan untuk menentukan apakah hubungan antara dua variabel tersebut kuat atau lemah.

Interpretasi nilai koefisien korelasi Spearman adalah sebagai berikut:

Jika koefisien korelasi Spearman (r_s) bernilai +1, artinya kedua variabel memiliki hubungan linier positif yang sempurna. Ini berarti semakin tinggi peringkat salah satu variabel, semakin tinggi juga peringkat variabel yang lain.

Jika r_s bernilai -1, artinya kedua variabel memiliki hubungan linier negatif yang sempurna. Ini berarti semakin tinggi peringkat salah satu variabel, semakin rendah peringkat variabel yang lain.

Jika r_s bernilai 0, artinya kedua variabel tidak memiliki hubungan linier. Ini berarti tidak ada korelasi antara peringkat variabel satu dengan yang lain.

Jika r_s bernilai antara -1 dan 1, artinya kedua variabel memiliki hubungan linier positif atau negatif, dengan kekuatan yang bervariasi tergantung pada nilai koefisien korelasi. Semakin dekat r_s dengan 1 atau -1, semakin kuat hubungan linier antara kedua variabel. Sedangkan semakin dekat r_s dengan 0, semakin lemah hubungan antara kedua variabel.

Selain itu, berikut adalah model interpretasi yang umum digunakan:

0,00-0,25: Korelasi sangat lemah

0,26-0,49: Korelasi lemah

0,50-0,69: Korelasi sedang

0,70-0,89: Korelasi kuat

0,90-1,00: Korelasi sangat kuat

Perlu diingat bahwa interpretasi tersebut bersifat relatif dan dapat berbeda tergantung pada jenis data dan konteks analisis. Oleh karena itu, penting untuk selalu melihat kualitatif data dan faktor lainnya dalam mengevaluasi hasil korelasi Spearman.

Referensi:

Sirkin, R. M. (2012). Statistics for the Social Sciences. SAGE Publications.

Namun, perlu diingat bahwa koefisien korelasi Spearman hanya dapat mengukur hubungan antara variabel yang bersifat ordinal. Jika salah satu atau kedua variabel bersifat nominal, maka tidak dapat digunakan untuk menghitung koefisien korelasi Spearman.

Contoh Kasus

Seorang peneliti ingin mengetahui apakah ada korelasi antara tingkat pendidikan dan gaji karyawan di sebuah perusahaan. Peneliti tersebut mengumpulkan data tingkat pendidikan (dalam skala ordinal) dan gaji (dalam skala interval) dari 10 karyawan secara acak. Data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

No

Tingkat Pendidikan

Gaji (dalam juta)

1

1

2,5

2

2

3,0

3

3

3,5

4

4

4,0

5

5

4,5

6

1

2,0

7

2

2,5

8

3

3,0

9

4

3,5

10

5

4,0

Pertama-tama, kita perlu menghitung peringkat untuk setiap variabel. Peringkat dapat dihitung dengan mengurutkan nilai dari yang terkecil hingga yang terbesar dan memberikan nomor urut yang sesuai.

No

Tingkat Pendidikan

Gaji (dalam juta)

Peringkat Pend.

Peringkat Gaji

1

1

2,5

1

2

2

2

3,0

2

3

3

3

3,5

3

5

4

4

4,0

4

7

5

5

4,5

5

9

6

1

2,0

1

1

7

2

2,5

2

2

8

3

3,0

3

3

9

4

3,5

4

4

10

5

4,0

5

6

Setelah itu, kita dapat menghitung koefisien korelasi Spearman dengan rumus yang telah dijelaskan sebelumnya:

di mana d adalah selisih peringkat antara kedua variabel dan n adalah jumlah pasang data yang dianalisis.

Dalam contoh ini, kita memiliki 10 pasang data. Kita dapat menghitung selisih peringkat d antara tingkat pendidikan dan gaji seperti berikut:

No

Peringkat Pend.

Peringkat Gaji

d

d^2

1

1

2

-1

1

2

2

3

-1

1

3

3

5

-2

4

4

4

7

-3

9

5

5

9

-4

16

6

1

1

0

0

7

2

2

0

0

8

3

3

0

0

9

4

4

0

0

10

5

6

-1

1

Jumlah

32

Nilai korelasi Spearman sebesar 0.8061 menunjukkan adanya hubungan positif yang cukup kuat antara kedua variabel.

Posting Komentar untuk "Cara Menghitung Koefisien Korelasi Spearman, Interpretasi, dan Contoh Kasus"